Bulan Safar kerap kali disalahpahami oleh sebagian masyarakat sebagai bulan yang membawa kesialan. Mitos-mitos yang berkembang seolah menjadikan Safar sebagai waktu yang harus dihindari untuk memulai aktivitas penting seperti pernikahan, bepergian jauh, atau berdagang. Namun, bagaimana sebenarnya pandangan Islam—khususnya menurut Muhammadiyah—terhadap bulan Safar?
Menghapus Mitos Kesialan Bulan Safar
Dalam ajaran Islam yang murni, tidak ada bulan yang dianggap sial atau membawa celaka. Semua waktu adalah ciptaan Allah dan sama baiknya. Rasulullah ﷺ secara tegas membantah kepercayaan semacam ini. Dalam hadits riwayat Muslim, beliau bersabda:
“Tidak ada penularan penyakit (tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (takhayul), tidak ada hamah (burung pembawa sial), dan tidak ada (kesialan di bulan) Safar.”
(HR. Muslim no. 2222)
Hadits ini menjadi dasar kuat untuk menolak anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial.
Pandangan Muhammadiyah
Menurut Pimpinan Pusat Muhammadiyah, semua bentuk takhayul, khurafat, dan mitos yang tidak berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah harus ditinggalkan. Dalam buku “Tajdid Muhammadiyah”, KH. Ahmad Dahlan menyampaikan pentingnya tajdid (pembaruan) dalam berpikir, termasuk membersihkan akidah dari kepercayaan jahiliah seperti anggapan kesialan pada bulan Safar.
“Muhammadiyah sejak awal berdirinya bertujuan untuk memurnikan ajaran Islam dari unsur-unsur yang tidak berasal dari Islam itu sendiri, termasuk kepercayaan terhadap waktu-waktu yang dianggap membawa sial.”
(Tanfidz Keputusan Tarjih Muhammadiyah, Muktamar ke-47)
Momentum Memperbanyak Amal
Daripada larut dalam kepercayaan tak berdasar, bulan Safar justru bisa menjadi momentum untuk memperbanyak amal kebaikan. Membantu sesama, menunaikan zakat, berbagi dengan anak yatim, dan memperkuat solidaritas sosial adalah amalan yang sangat dianjurkan.
Lazismu sebagai lembaga zakat milik Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk menjadikan bulan Safar sebagai ladang amal. Tidak ada waktu yang lebih baik selain sekarang untuk menebar manfaat.
Baca juga : Lanjutkan kebaikan di bulan muharram
Menyambung Harapan di Bulan Safar
Program-program seperti Sedekah Subuh, Zakat Maal, atau donasi pendidikan bisa menjadi pilihan konkret bagi masyarakat yang ingin mengisi bulan Safar dengan semangat kebaikan. Dengan niat yang tulus, setiap sedekah akan kembali menjadi ketenangan jiwa dan keberkahan harta.
Jadikan bulan Safar sebagai momentum amal terbaik Anda. Klik di sini untuk berdonasi bersama Lazismu Cilacap.
