Fidyah merupakan kewajiban dalam Islam berupa pemberian makan kepada fakir miskin sebagai kompensasi bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa Ramadan dan tidak mampu menggantinya di hari lain. Ketentuan fidyah sendiri memiliki dasar Al-Qur’an, pemikiran ulama, dan juga kajian akademik kontemporer yang memperjelas pengertiannya.
Namun dalam praktik di masyarakat, fidyah sering dilakukan secara kurang tepat. Berikut adalah 4 kesalahan umum beserta cara menghindarinya.
1. Menganggap Semua Orang yang Tidak Berpuasa Wajib Membayar Fidyah
Kesalahan: Banyak yang menyamakan fidyah dengan kewajiban mengganti puasa secara umum.
Penjelasan: Fidyah hanya diwajibkan bagi yang benar-benar tidak mampu menjalankan puasa sama sekali (mis: lansia lemah, sakit kronis) tanpa kemungkinan mengganti di lain hari.
2. Membayar Fidyah Padahal Seharusnya Qadha Puasa
Kesalahan: Membayar fidyah padahal masih mampu berpuasa di lain waktu.
Penjelasan: Jika masih mampu mengganti puasa di luar Ramadan, yang harus dilakukan adalah qadha, bukan fidyah.
3. Takaran Fidyah yang Tidak Tepat
Kesalahan: Memberikan fidyah kurang dari ketentuan syariat.
Penjelasan: Dalam kajian maqāṣid syariah, fidyah biasanya setara satu mud makanan pokok per hari puasa yang ditinggalkan, yang diperkirakan sekitar 567 gram (atau disetarakan dengan makanan yang cukup untuk satu orang miskin).
4. Memberikan Fidyah dalam Bentuk yang Tidak Sah
Kesalahan: Memberikan sesuatu yang tidak sesuai syariat atau pendapat mazhab.
Penjelasan: Ada perbedaan ulama apakah fidyah wajib berupa makanan pokok atau boleh dalam bentuk uang/beras siap makan.
Itulah beberapa kesalahan yang sering terjadi di masyarakat, marilah kita perbaiki dan edukasi keluarga kita agar lebih memahami makna dan arti fidyah yang sebenarnya.
